Saya kembali akan mengenang Bapak, yang saat ini sudah 1000 hari lebih meninggalkan kami: Ibu, saya, dan empat anak lainnya.
Ingatan saya melayang ke suatu masa; masa ketika saya kecil, ketika (seingat saya) adik perempuan tertua belum lahir, dan ketika tidur malam masih seranjang dengan kedua orang tua tercinta. Kenapa seranjang? Karena memang tidak ada ranjang lain saat itu. Saya pun, mungkin juga Bapak dan Ibu, saat itu memang tidak mengenal pemisahan tempat tidur antara anak dan orang tua. Jadi tidurlah saya diapit Bapak dan Ibu. Pada malam-malam lainnya, kami tetap tidur bertiga dengan variasi posisi yang acak. Kadang saya di posisi terluar, entah itu di samping Ibu atau beradu-pantat dengan Bapak.
Read more…
Wajar, jika setiap anak yang punya bapak dan kebetulan bapaknya baik luar biasa, akan selalu bilang bahwa bapaknya lah yang terbaik. Begitu juga yang saya katakan terhadap almarhum Bapak saya.
Penyakit liver dan komplikasi kanker hati, menggerogoti fisik beliau hanya dalam tempo kurang lebih 3 bulan. Saya hanya sempat tahu dan terkejut luar biasa, saat mendapati tubuh beliau yang sangat kurus; jauh berbeda dengan apa yang saya lihat saat terakhir kali pulang kampung — 6 bulan lalu. Bapak saat itu terlihat gemuk, sehat, bertenaga; sebagaimana yang saya kenal posturnya sejak saya kecil. Saat itu saya masih melihat sinar mata Bapak yang masih mencerahkan, namun liver telah membuatnya menguning. Pipi Bapak cekung. Saya benar-benar terenyuh saat pertama kali melihatnya…
Read more…
Recent Comments