Selamat Ulang Tahun Kompas
Hari ini, sudah 44 tahun usia Kompas. Maka di awal tulisan ini saya mengucap: “Selamat Ulang Tahun, Kompas. Semoga panjang umur, ya edisi cetaknya, ya online-nya.”
Empat puluh empat tahun, suatu usia yang sudah terbilang sepuh menurut saya. Sepuh tidak berarti melulu ubanan, tapi dia telah punya karakter, “harga diri”, kearifan, juga keangkuhan yang bertanggung-jawab. Pak Jakob Oetama menyebutnya “bersosok”, karena Kompas telah menjadi suatu lembaga yang organik dan organis.
Saya mengenal Kompas — dalam arti menyentuh, membuka, dan kemudian membacanya — saat mulai kuliah di Bogor, IPB. Sebelumnya saya cuman kenal nama, karena satu-satunya koran yang sering mampir ke rumah saya di Madura hanyalah Jawa Pos, koran andalan Pak Dahlan Iskan yang sangat digdaya di Jawa Timur. Kompas yang saya kenal waktu itu masih berukuran lebih lebar, dan belum dipoles secantik sekarang (yang kalau tidak salah ingat, Kompas menyewa konsultan dari Amrik demi polesan itu). Kompas yang waktu itu saya pinjam dari kakak kelas se-kos-an, berbahasa lebih susah ketimbang bahasa Jawa Pos yang apa-adanya.
Recent Comments