Saya kembali akan mengenang Bapak, yang saat ini sudah 1000 hari lebih meninggalkan kami: Ibu, saya, dan empat anak lainnya.
Ingatan saya melayang ke suatu masa; masa ketika saya kecil, ketika (seingat saya) adik perempuan tertua belum lahir, dan ketika tidur malam masih seranjang dengan kedua orang tua tercinta. Kenapa seranjang? Karena memang tidak ada ranjang lain saat itu. Saya pun, mungkin juga Bapak dan Ibu, saat itu memang tidak mengenal pemisahan tempat tidur antara anak dan orang tua. Jadi tidurlah saya diapit Bapak dan Ibu. Pada malam-malam lainnya, kami tetap tidur bertiga dengan variasi posisi yang acak. Kadang saya di posisi terluar, entah itu di samping Ibu atau beradu-pantat dengan Bapak.
Read more…
Wajar, jika setiap anak yang punya bapak dan kebetulan bapaknya baik luar biasa, akan selalu bilang bahwa bapaknya lah yang terbaik. Begitu juga yang saya katakan terhadap almarhum Bapak saya.
Penyakit liver dan komplikasi kanker hati, menggerogoti fisik beliau hanya dalam tempo kurang lebih 3 bulan. Saya hanya sempat tahu dan terkejut luar biasa, saat mendapati tubuh beliau yang sangat kurus; jauh berbeda dengan apa yang saya lihat saat terakhir kali pulang kampung — 6 bulan lalu. Bapak saat itu terlihat gemuk, sehat, bertenaga; sebagaimana yang saya kenal posturnya sejak saya kecil. Saat itu saya masih melihat sinar mata Bapak yang masih mencerahkan, namun liver telah membuatnya menguning. Pipi Bapak cekung. Saya benar-benar terenyuh saat pertama kali melihatnya…
Read more…
Untuk ketiga kalinya, istri saya melahirkan di RS Azra Bogor. Untuk kesekian kalinya saya bersyukur sebesar-besarnya atas karunia Allah SWT. Yup, tidak lain karena atas izin dan rahmat-Nya, saya dan istri diberikan lagi hadiah besar dalam hidup. Hadiah yang berusaha didapatkan oleh sebagian besar “pasangan normal” dengan segala laku dan usaha yang tidak kecil. Anak!
Read more…
Hari ini saya berangkat siang ke kantor. Sudah izin terlebih dulu ke atasan untuk rencana yang agak mendadak itu. Pagi nganter anak yang pertama ke sekolah (TK). Agak siangan dikit nganter si kecil kontrol ke dokter. Makanya sekalian berangkat siang, karena istri punya agenda lain: ngunjungin kantornya di Jakarta setelah kurang lebih 2 minggu dia off, dan katanya… lumayan cukup menurunkan IQ-nya.
Sekitar jam 9-an lewat, menjelang keberangkatan ke Jakarta sembari nanti jemput teteh, saya dapet SMS dari adik perempuanku di Madura. Minta cepet ditelepon, katanya. Ooops! Ada apa lagi neh, sekalipun sempet nebak mungkin masalah adik laki2ku yang belakangan ini lagi mbalelo.
Read more…
Perihal nama yang akan disematkan ke anak saya yang ketiga sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari sebelum dia lahir. Seharusnya pencarian tersebut lebih gampang, karena saya sudah punya pengalaman 2x sebelumnya; saat mencari dan mengkomposisi dua anak saya sebelumnya. Clue jenis kelamin Dede juga sudah diketahui beberapa bulan sebelumnya, berdasarkan hasil USG dokter. Namun tetap aja sampai Dede lahir, menginap di rumah sakit dua hari, dan kemudian pulang ke rumah; nama yang dicari dan dikomposisi tidak kunjung ketemu.
Saya sebetulnya punya pakem atau pattern dalam pemberian nama anak-anak saya. Pattern tersebut kira-kira seperti berikut ini:
Read more…
Syukur yang tiada terhingga hanya kepada Allah SWT. Kembali, saya dan istri tercinta dikaruniai titipan yang tidak ternilai harganya. Si kecil, yang kurang lebih sembilan bulan bertapa di rahim sang Mama, kemarin keluar dengan selamat ke muka bumi.
Faris Rashid Azizi, nama si kecil. Lahir dengan berat 3.2 kg dan panjang 49 cm pada hari Minggu, 29.10.2006 tepat jam 11.20 WIB di RS Azra Bogor. Bisa ditebak kelamin si kecil dari namanya. Ya. Cowok.
Sekali lagi, syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT karena kelahiran Faris menyeimbangkan komposisi di keluarga saya: 2 cowok + 2 cewek.
Demikian dulu kabar gembira. Mudah-mudahan cerita gembira berikutnya dapat saya paparkan di blog ini. Thanks.
Recent Comments