Hari ini, sudah 44 tahun usia Kompas. Maka di awal tulisan ini saya mengucap: “Selamat Ulang Tahun, Kompas. Semoga panjang umur, ya edisi cetaknya, ya online-nya.”
Empat puluh empat tahun, suatu usia yang sudah terbilang sepuh menurut saya. Sepuh tidak berarti melulu ubanan, tapi dia telah punya karakter, “harga diri”, kearifan, juga keangkuhan yang bertanggung-jawab. Pak Jakob Oetama menyebutnya “bersosok”, karena Kompas telah menjadi suatu lembaga yang organik dan organis.
Saya mengenal Kompas — dalam arti menyentuh, membuka, dan kemudian membacanya — saat mulai kuliah di Bogor, IPB. Sebelumnya saya cuman kenal nama, karena satu-satunya koran yang sering mampir ke rumah saya di Madura hanyalah Jawa Pos, koran andalan Pak Dahlan Iskan yang sangat digdaya di Jawa Timur. Kompas yang saya kenal waktu itu masih berukuran lebih lebar, dan belum dipoles secantik sekarang (yang kalau tidak salah ingat, Kompas menyewa konsultan dari Amrik demi polesan itu). Kompas yang waktu itu saya pinjam dari kakak kelas se-kos-an, berbahasa lebih susah ketimbang bahasa Jawa Pos yang apa-adanya.
Read more…
Suatu siang, di ruang tunggu pelanggan, bengkel Nissan Radin Inten, Jakarta Timur.
Telah lewat 2 jam, tapi belum ada tanda-tanda mobil saya akan selesai diservis setengah jam ke depan. Mobil abu-abu itu — begitu anak saya yang kedua menyebutnya — masih dikelilingi oleh para engineer Nissan yang berseragam putih merah. Lumayan banyak sih memang pekerjaannya, jika dilihat di lembaran kuning perintah kerja. Sesungguhnya cuma ada satu jenis pekerjaan, yaitu service 30 ribu kilometer. Tapi saya tambahkan empat pekerjaan lagi yang membuat estimasi selesai pekerjaan molor 1.5 jam dari seharusnya 2 jam. Dan sesungguhnya, saya sudah mempersiapkan mental dan senjata untuk tambahan waktu tersebut.
Read more…
Saya kembali akan mengenang Bapak, yang saat ini sudah 1000 hari lebih meninggalkan kami: Ibu, saya, dan empat anak lainnya.
Ingatan saya melayang ke suatu masa; masa ketika saya kecil, ketika (seingat saya) adik perempuan tertua belum lahir, dan ketika tidur malam masih seranjang dengan kedua orang tua tercinta. Kenapa seranjang? Karena memang tidak ada ranjang lain saat itu. Saya pun, mungkin juga Bapak dan Ibu, saat itu memang tidak mengenal pemisahan tempat tidur antara anak dan orang tua. Jadi tidurlah saya diapit Bapak dan Ibu. Pada malam-malam lainnya, kami tetap tidur bertiga dengan variasi posisi yang acak. Kadang saya di posisi terluar, entah itu di samping Ibu atau beradu-pantat dengan Bapak.
Read more…
Wajar, jika setiap anak yang punya bapak dan kebetulan bapaknya baik luar biasa, akan selalu bilang bahwa bapaknya lah yang terbaik. Begitu juga yang saya katakan terhadap almarhum Bapak saya.
Penyakit liver dan komplikasi kanker hati, menggerogoti fisik beliau hanya dalam tempo kurang lebih 3 bulan. Saya hanya sempat tahu dan terkejut luar biasa, saat mendapati tubuh beliau yang sangat kurus; jauh berbeda dengan apa yang saya lihat saat terakhir kali pulang kampung — 6 bulan lalu. Bapak saat itu terlihat gemuk, sehat, bertenaga; sebagaimana yang saya kenal posturnya sejak saya kecil. Saat itu saya masih melihat sinar mata Bapak yang masih mencerahkan, namun liver telah membuatnya menguning. Pipi Bapak cekung. Saya benar-benar terenyuh saat pertama kali melihatnya…
Read more…
Tadi pagi, di satu lampu merah perempatan Jl. Pajajaran Bogor, mobil saya sejajaran dengan dua angkot hijau. Isinya anak-anak seumuran anak SD, beserta beberapa orang tua. Dilihat dari gayanya duduk dan bervariasinya mimik muka, nampaknya mereka bukan penumpang biasa. Sepertinya mereka mau berplesir.
Anggapan saya tadi agaknya mendekati benar, karena ingat memang bulan Juni segala macam jenis ujian anak sekolah rampung. Berganti dengan masa sibuk-sibuknya pendaftaran, dan tentu saja… masa liburan. Dan benar saja, tak lama kemudian sambil menunggu lampu merah hijau kembali, seorang anak bercelana selutut turun menuju ke angkot hijau lain di depannya. Anak itu kembali lagi berlari kecil menuju angkotnya, sambil menenteng tas kecil.
Read more…
Untuk ketiga kalinya, istri saya melahirkan di RS Azra Bogor. Untuk kesekian kalinya saya bersyukur sebesar-besarnya atas karunia Allah SWT. Yup, tidak lain karena atas izin dan rahmat-Nya, saya dan istri diberikan lagi hadiah besar dalam hidup. Hadiah yang berusaha didapatkan oleh sebagian besar “pasangan normal” dengan segala laku dan usaha yang tidak kecil. Anak!
Read more…
Recent Comments